The Testimoni for ODOP Community
Jika kamu punya minat di dunia kepenulisan, dan pernah mendengar tentang Komunitas ODOP---maka kamu semestinya mencoba, untuk bergabung di dalamnya. Komunitas yang merupakan kepanjangan dari One Day One Post ini: sudah menjaring banyak kaula muda (kaula tua juga!) untuk terus menorehkan karya tulis, baik fiksi dan non-fiksi. Terhitung sudah sampai pada angkatan (batch 6) sejak Batch 1 tahun 2015, ODOP eksis dalam dunia pembelajaran kepenulisan.
Pada artikel kali ini, aku akan memaparkan 4 keunggulan bergabung dengan komunitas ODOP. Tentu saja ini berdasarkan pengalaman pribadi selama Nge-ODOP di Batch 6. Tanpa basa-basi lagi, dengan secara gamblang, dan terang terwaca (bhs.Jawa: kejujuran), akan aku tuliskan semua keunggulannya:
1. Motivasi Menulis Setiap Hari
Pola belajar manusia berbeda-beda. Ada yang memang memiliki motivasi internal untuk belajar secara mandiri, ada yang butuh motivasi eksternal untuk belajar. Di Komunitas ODOP, kita akan secara dominan disuguhi hal yang berbeda dengan keduanya.
Dari namanya saja, ODOP (One Day One Post) diperuntukkan untuk yang berkomitmen membuat satu tulisan setiap hari. Dengan sistem komunikasi via grup WhatsApp, maka kita bisa memantau perkembangan tulisan masing-masing anggota. Apakah sudah ada yang menyetor tulisan, hingga kualitas tulisan anggota.
Atmosfer yang diciptakan dari tempat yang seperti arena kompetensi ini, membuat para anggota untuk (rasanya sedanh) bersaing satu sama lain. Meskipun sebenarnya; persaingan bukan dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri. Hal ini akhirnya, bisa mendorong motivasi menulis anggota tiap hari.
Dari hal-hal kecil (yang seperti dipaksa), Insyaalloh akan menjadi kebiasaan baru yang nenyenangkan. Menjadi aneh deh, kalau tidak menulis satu hari aja.
2. Belajar bersama
Tidak ada kasta-kasta dalam komunitas ODOP, yang ada adalah yang mau tetap berusaha, dan yang membuka pintu keluar (menyerah).
Mulai dari yang sudah lama gabung hingga yang baru (sepertiku saat itu), semuanya disamaratakan. Sehingga, tidak perlu minder untuk memosting karya. Karena pada proses awal, bukan soal bagus-tidaknya karya yang dituntut. Namun soal komitmen menulis. Setiap hari hampir selalu ada saja bahan diskusi. Dan tentu saja, ilmu bertebaran di sana.
Setiap Senin dan Jumat ada jadwal menerima materi yang semakin hari, semakin meningkat teknik menulisnya. Ini seru, karena semua akan kembali belajar.
Pemateri, merupakan mereka-mereka yang punya kapasitas lebih di bidangnya masing-masing. Entah fiksi (penokohan, plot, showing, and telling) dan non-fiksi (judul, data, paragraf, isi, dll)
3. Bedah tulisan
Setiap selasa sampai kamis atau 3 kali dalam seminggu, ada jadwal bedah tulisan. Yaitu, dengan memilih satu orang peserta untuk membagikan tulisannya, kemudian seisi grup akan melakukan penilaian.
Momen bedah tulisan ini merupakan momen yang bisa masuk museum. Karena sulit untuk dilupakan. Kayak kamu. (Iya.. Kamu).
Luar biasa... kelas bedah tulisan ini punya 2 kata menurutku, yaitu; Horor dan Menyenangkan
Testimoniku:
Kamu pernah gak dikritik dengan begitu pedas, setajam silet, oleh banyak orang? Sehingga semua warga di Pulau tahu, tentang kelemahan dan kekurangan kamu? Bagaimana perasaanmu?
Kebetulan dan alhamdulillah, aku pernah. Dan jika ditanya perasaan saat itu, sebenarnya khusus kali itu saya cukup senang dan bangga. Serius.
Berbeda dengan keroyokan yang biasa terjadi, di Pulau Harapan (salah satu grup One Day One Post BATCH 6), kamu akan dikeroyok hingga babak belur. Hampir tidak ada satupun kekurangan kamu yang tidak dibahas. Apa yang dikritik?
Tentu saja tulisanmu, karena mereka tidak peduli dengan apapun gaya berpakaianmu. Satu artikel, atau satu puisi
(umumnya cerpen); akan di bedah, yang merupakan program dari komunitas One Day One Post.
Seperti yang kualami waktu menjadi korban pengeroyokan (bedah tulisan/karya). Masih teringat jelas suasana malam bedah itu. Angin di luar rumah yang menari mengetuk-ngetuk jendela kamar, saat gawai berbunyi terus; karena notifikasi Whatsapp. Ketika Muti/atau Dita sebagai moderator memberikan aba-aba siap. Semua anggota grup, mulai dari yang paling amatir sampai para Hokage kepenulisan sudah mengasah-asah “pisau” bedah. Irisan demi Irisan terjadi pada puisi yang kubagikan. Judul, kalimat pembuka, isi penutup, huruf kapital di tengah kalimat, dan lainnya tidak luput dari mereka 'koaran' mereka.
Saat tulisanku diletakkan di tengah gelanggang keroyokan itu, sensasi yang dirasakan berbeda. Aku malah senang (karena merasa diperhatikan) Semakin tajam komentar dari para peserta, semakin bertambah ilmu kepenulisan kita.
Ilmu kepenulisan sama halnya dengan ilmu berbicara. Punya korelasi khusus, yang tidak akan terlepas dari bahasa. Ya, bahasa. Entah pemerolehan kosa kata, logika dan makna kata (morfologi), logika penyebutan kata (fonologi), atau struktur kalimat (sintaksis), penggunaannya kata (sosio-lingustik), semua berkaitan dengan dunia kepenulisan.
Menurut Teori Tabularasa; manusia lahir sebagaimana sebuah kertas putih, yang kemudian dipancarkan berbagai warna. Warna-warna yang akan tergambar merupakan hasil interaksi dengan orang lain, maupun kontemplasi dengan bacaan, dan penalaran lainnya. Artinya, manusia lahir dengan kemampuan yang minim. Dengan alat bahasa serta pergaulan, barulah kemudian ada pemerolehan bahasa.
Kemampuan menulis punya hal yang unik. Memang tidak selalu mutlak, dan sering bertransformasi menyesuaikan dengan kondisi zaman.
Misal, dalam kata “acuh”. Banyak orang sering menggunakan kata “acuh” untuk mengekspresikan ketidakpedulian, “mengacuhkan aku” dinalari dengan “tidak peduli dengan aku”. Ini lumrah terjadi dan sah jika dipahami bahwa bahasa merupakan alat untuk menyampaikan informasi.
Tapi, bahasa punya aturan baku sendiri (yang sering tidak mutlak. Bingung? Itu bisa ditelusuri di bab sosio-linguistik), maka harus diikuti. Kata “acuh” dalam KBBI adalah “mempedulikan”. Maka frasa “mengacuhkan aku” merupakan ujaran “mempedulikan aku”. Nah, kan???.
Juga dalam menulis suara hewan (onomatope) yang belum ada bentuk bakunya. Maka, setiap penulis akan berimajinasi sesuai logikanya. Saat bertemu dengan penulis lain yang lebih paham dan dikoreksi, seketika kemungkinan akan berubah. Itulah sebagian rumus bahasa yang tidak mutlak.
Dalam kegiatan membedah tulisan malam itu, aku benar-benar merasakan sebagaimana teori Tabularasa katakan. “Kertas putih” saya dikritik, dan dikeroyok, sehingga penuh dengan coretan-coretan dengan warna-warni yang indah. Banyak pelangi yang tergambar, setelah begitu derasnya 'hujan kritik' malam itu. Setamsil hidupku penuh warna, salah satunya adalah kamu (Iya… kamu).
Beberapa hal yang sebelumnya belum diketahui diajari langsung (dan intensif) oleh teman-teman lainnya. Tidak perduli seberapa jelek tulisan kamu, itu bukan syarat mutlak. Yang penting mau menulis, dan mau ikut aturan.
Pengalaman ini menjadi motivasi lain bagi saya yang masih amatir dalam dunia kepenulisan. Dengan adanya komunitas One Day One Post ini, saya punya keluarga baru. Terutama di grup kecil “Pulau Harapan”.
Walaupun kemampuanku sudah berpuluh tahun diuji waktu, sekarang oleh para PJ, dan penghuni lainnya. Tetapi aku bukan malah minder, justri merasa begitu senang dan lumayan antusias.
Semoga bisa tetap bertahan hingga masa latihan selesai, dan tetap terus berkarya. Titip tugas selanjutnya, bantulah KOPLING menjadi komunitas penulis yang mumpuni setelahnya.
Nganjuk, 17 Juli 2019

Seru yang kubayangkan. Jadi ngebet pengen segera gabung dan punya pengalaman panas dingin seperti Kang Win.
BalasHapusSebuah pengalaman yang luar biasa. Aku beruntung berada dalam komunitas yang sama dengan mas Win, ODOP dan Kopling
BalasHapusPingiiin....punya pengalaman seperti Pak Win 😆 , semangat dan deg-degan
BalasHapus