Widget HTML Atas

Sanggarwati

Lelaki tua malang itu hanya bisa mengerang kesakitan, ketika dua orang begal lagi-lagi meninju perutnya.

"Dimana anak gadismu, Pak Tua!" seru Singo Lodro yang berperawakan tinggi besar itu, sembari mencengkeram baju dibalik leher lelaki malang itu.

Sebuah tinju kembali bersarang di ulu hatinya, hampir membuat lelaki tua itu pingsan dibuatnya.

"Jangan terus kau pukuli lelaki tua ini, Kakang. Bisa-bisa dia mati. Sedangkan kita belum mendapatkan khabar tentang anak gadisnya, Si Sanggarwati!" cegah Celeng Korak, sambil memegangi erat tangan kakak seperguruannya.

Lelaki tinggi besar itu melepaskan tubuh Ki Sopanaran, yang langsung jatuh tertelungkup di lantai tanah rumahnya. Terdengar rintihan pelan dari mulut lelaki tua itu, memandangi wajah penganiayanya dengan hati yang tertahan.

Sementara kedua begal itu dengan leluasa memeriksa setiap jengkal tanah, juga setiap sudut-sudut gelap yang ada di rumah kecil itu. Mereka terlalu sibuk mengobrak-abrik seisi rumah, sehingga tidak menyadari Ki Sopanaran telah menyusup keluar dari rumahnya.

Dua begal itu terkejut menyadari menghilangnya ayah Ni Sanggarwati, dengan sia-sia mereka mencari di sekitar rumah yang mulai dilingkupi kegelapan senja.

"Dasar, goblok! Menjaga orang tua renta saja, tidak becus!" hardik Singo Lodro pada Celeng Korak, satu tendangan keras dari kaki kqnannya bersarang di dada lelaki pendek gendut itu. Celeng Korak mengaduh kesakitan, sebelum tubuh bulatnya terjatuh di antara semak belukar.

"Maafkan aku, Kakang!" teriaknya berat, karena merasa dadanya bagai terbakar oleh tendangan itu.

Belum reda wajah geram Singo Lodro kepada adik seperguruannya, ketika sebuah bayangan melesat diantara semak belukar. Seorang gadis cantik berambut panjang terurai, dengan baju kuning gading sudah berdiri di antara mereka. Kedua begal itu terkesiap, mengamati gerakan gadis yang menggunakan ilmu meringankan tubuh sangat sempurna itu.

"Siapa kamu, gadis cantik?!" tanya Singo Lodro, sambil tak henti kedua bola matanya menelisuri setiap lekuk tubuh wanita 17 tahunan itu.

Sementara yang ditanya nampak hanya tersenyum, sambil menyibakkan sebagian rambut panjang dari dadanya ke belakang punggung. Kedua bajingan itu semakin kehilangan akal, memandangi dua buah gundukan ranum yang menyisakan belahan yang sangat memikat.

Tak henti-hentinya mereka menelan ludah, bahkan Celeng Korak sudah gemetaran memandangi tubuh Ni Sanggarwati yang sintal itu.

"Kalian mencariku?!" Sanggarwati membuyarkan lamunan kedua lelaki bejat itu, dengan pertanyaannya. Geragapan, dua orang begundal itu kembali menatap wajah ayu yang di hadapannya itu.

"Siapa kamu, Nduk¹?" tanya Singo Lodro dengan lembut, beberapa langkah di coba mendekati tempat gadis cantik itu berdiri.

Sanggarwati membuat isyarat dengan tangannya, mencoba memperingatkan untuk tidak lagi berani mendekati. Singo Lodro terhenti langkahnya, hanya dua jengkal saja jauhnya dari sang gadis jelita.

"Siapa namamu, Nduk?" tanyanya lagi, sambil tiada henti mengagumi kecantikan wajah sang gadis.

"Aku Sanggarwati, yang sedang kalian cari itu!" jawab sang gadis, sambil terus waspada mengamati kedua gerakan orang yang menatapnya lapar.

"Wah, sangat kebetulan bertemu disini. Apakah lelaki tua tadi sudah menyampaikan khabar ini kepadamu, Nduk?" tanya begal Singo Lodro, yang terdengar tersenggal karena birahi yang memuncak di dalam dadanya.

"Lelaki tua itu, adalah Guru dan juga Ayahku... Ki Sopanaran namanya. Seharian kalian dipermainkan olehnya, memukuli bayangan semu yang kalian lihat sebagai dirinya."

"Kurang ajar! Kenapa aku tidak menyadari, sedang terkena teluh Panglimunan? Padahal Ki Banaspati sudah memperingatkanku, tentang kemungkinan bertemu ilmu itu!" teriak Singo Lodro dengan wajah memerah, " jadi, kamulah orangnya yang bernama Ni Sanggarwati? Si Pedang Bidadari, dari Gunung Pandan itu?"

"Kalian terlalu sembrono, meremehkan perguruan Ki Sopanaran dari Gunung Pandan, ini!" kata Sanggarwati diakhir tawanya, "lihatlah sekeliling kalian berdiri, mereka adalah murid padepokan Gunung Pandan ini!"

Kedua rampok itu terperanjat, karena tiba-tiba saja mereka sudah berada dalam kepungan berpuluh orang yang melingkari mereka. Bergidik juga nyali Singo Lodro Si Gemblak Dayak, bahkan Celeng Korak kedua kakinya gemetaran tidak karuan.

"Kalian mau mengeroyok, kami?!" teriak Singo Lodro, sambil merapal aji Tameng Wojo yang dikuasainya.

Terdengar tawa menggemuruh dari siapa yang mengepung mereka, karena mendengar teriakan Singo Lodro yang ketakutan.

"Kami bukan bangsa bajingan seperti kalian, penyiksa kakek-kakek tidak berdaya. Perampok, pemerkosa, bahkan sepertinya kalian tidak beragama!" terdengar suara Sanggarwati, yang entah dimana sekarang keberadaannya. Gadis cantik itu telah meninggalkan arena, berada di suatu tempat sedang mengawasi mereka semua.

"Ah, persetan dengan kalian semua! Ayo majulah! Pantang bagi Gemblak Dayak untuk mundur, sejengkal pun!"

Tiba-tiba saja lingkaran murid Ki Sopanaran tersibak, seorang lelaki pendek, kurus, kecil, berjalan perlahan ka tengah kalangan. Gemblak Dayak terkejut dengan nyali si kuntet ini, karena jika diukur pun lelaki ini hanya setinggi lututnya saja.

"Heh, Kuntet²! Besar sekali nyalimu, berani menyambut tantanganku. Sebutkan namamu, agar menjadi pengingat bagiku telah menganiaya bocah nakal sepertimu!"

Lelaki cebol itu hanya tersenyum, nampak sekali tidak ada secuilpun kecemasan di wajah lucunya. Dia memberikan salam sesama pendekar, dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya. Entah mengapa, Gemblak Dayak membalas salam antar sesama pendekar itu. Hal mana, yang sangat tidak pernah dilakukannya selama ini. Dia bahkan tidak lagi bisa mengartikan pandangan keheranan, dari adik seperguruannya Celeng Korak.

"Kisanak, namaku Ripin. Tertarik untuk menjawab tantanganmu itu, sudilah memberikan satu dua ilmu padaku." Si Cebol mulai mengeluarkan kata-katanya, suara kecilnya yang lucu membuat Singo Lodro Si Gemblak Dayak tergelak-gelak.

"Sudahlah... hahaha... mundurlah bocah kecil, ini pertarungan antara orang dewasa. Bahkan jika orang sepertimu berjajar sampai seribu, aku tidak akan berhenti dari gelak tawaku ini. Hahahaha!."

-Bersambung-

¹Nduk: Panggilan untuk gadis muda (Jawa)
²Kuntet: Cebol ceking

2.Pertempuran