Widget HTML Atas

Cantrik Muda dan Cerita Pewayangan yang Sarat Simbol Kehidupan

Duduk bersimpuh sang murid, menghadap sang Guru. Seorang pemuda 18 tahun yang menjadi Cantrik (murit), daripada sang Guru. Dengan khusuk mendengarkan pelajaran tentang kisah pewayangan, dimana diwaktu yang tidak lama lagi akan menjadi tugasnya menceritakan itu kepada muridnya sendiri.

"Apakah aji-aji (ajian) dalam pewayangan itu betul-betul ada, Kiai? Dan kalau ada, bagaimanakah rapalan dan mantranya?" pertanyaan Dalang Anom memecah keheningan, ketika dilihatnya Ki Dalang sedang menikmati sedotan sigaretnya.

"Ajian (rapalan) atau Aji Jaya Kawijayan (kesaktian) itu memang betul-betul ada, tetapi tidak dalam pewayangan itu sendiri. Yang ada dalam pewayangan hanyalah merupakan pasemon (sindiran), atau simbol belaka." jawab orangtua itu, setelah meletakkan yang dihisapnya, "Aji Jaya Kawijayan juga disebut occultisme (ilmu gaib), dan oleh Wedhatama disebut ilmu karang."

"Apakah ilmu karang itu, Kiai?"

"Ilmu karang tersebut oleh Wedhatama (petuah luhur) dilarang, karena ilmu karang itu disusun oleh makhluk gaib yang hanya merupakan karangan (pengelabuhan) saja. Ibaratnya bagai bedak yang tak dapat meresap ke dalam tubuh, tetapi hanya menempel pada kulit luar saja."

"Artinya bagaimana, Kiai?"

"Ilmu tersebut bila menghadapi bahaya secara mendadak, akan mengecewakan, dan tidak dapat diandalkan."

"Jika dianggap sebagai ilmu yang mengecewakan, bagaimana kelanjutan ilmu itu?"

"Sekarang sudah tidak dipelajari lagi, karena kini sudah ada senjata yang lebih ampuh. Misalnya Bazzoka, Tank, Bom Atom, dan Thermonuclear System.

"Tetapi, Kiai. Bukankah kesaktian mereka bisa menghindarkannya?"

"Betapapun sakti dan kebalnya orang yang ber-ajian tersebut, tetapi kalau terkena bom atom atau basoka, kukira akan hancur lebur tulang dagingnya menjadi berkeping-keping." Dalang tua itu sedikit terbatuk, kemudian dengan gemas melempar puntung sigaretnya melewati lantai pendapa. Kemudian melanjutkan kembali keterangannya, setelah selesai dengan batuk tuanya.

"Kini yang dipelajari adalah ilmu gaib yang putih, misalnya untuk mengobati orang yang sakit, dan menolong sesama manusia dalam kesukaran. Ilmu putih tersebut (bagi yang percaya) benar-benar ada, dan dapat dipelajari. Tetapi maaf, tentu saja tidak dapat diurakan disini. Perlu tempat khusus, dan suasana khusuk untuk mewedarkannya."

"Saya mengerti, Kiai. Apakah seorang dalang wayang kulit, juga harus menjadi dalang wayang Murwakala (tolak balak)?" tanya sang murid, dengan wajah keingintahuannya.

Sang guru tersenyum, sembari menyeruput kopi pahit di depannya.

"Tentu saja tidak harus, karena dia harus berguru lagi untuk memenuhi syarat-syaratnya."

"Apakah itu, Kiai?"

"Kelak kamu akan mempelajarinya, jika kamu berniat menjadi dalang murwakala. Setelah kamu beristri, dan sudah mendalang minimal di 7 kota yang berbeda."

"Begitukah, Kiai?"

"Iya, Ngger. Kamu juga perlu memahami, apa yang akan kuceritakan ini."

"Siap mendengarkan, Kiai."

"Beberapa tahun lalu, aku mengadakan pergelaran wayang kulit ruwatan dengan lakon Sudamala (Sadewa dan Semar meruwat para Dewa). Tiba-tiba sehari sebelum ruwatan, datanglah orang dari Jember menyerahkan ajimat yang berbentuk Keris Semar." Kata Ki Dalang, memulai ceritanya, "setelah keris itu kuterima, orang tersebut segera pergi, tidak mau diberi uang sebagai gantinya. Karena menurut pengakuannya, dia hanya sekedar melaksanakan pesan dari almarhum orang tuanya."

"Sampai sekarang keris Semar tersebut masih kusimpan, dan belum diketahui apa maksud sebenarnya dari kejadian ini. Apakah hanya main-main, atau sungguh-sungguh. Yang jelas adalah, bahwa keris Semar datang 24 jam sebelum (wayang) Semar meruwat para Dewa."

"Saya memahaminya sebagai kedatangan Kiai Semar, yang akhirnya ikut meruwat bersama Anda, Kiai." jawab sang murid, dengan raut wajah yang membanggakannya. Sang guru tersenyum puas, mendapati kenyataan tentang kecerdasan sang murid.

"Baiklah, kita sekarang mengupas mengenai Aji Mundri milik Anoman," bersiaplah untuk menyimaknya, "Aji Mundri tersebut dipergunakan oleh Anoman untuk mencoba jembatan udara, yang dibangun oleh Wibisana dalam lakon Rama Tambak. Karena aji Mundri-nya, jembatan tersebut hancur ketika diinjak oleh Anoman."

"Di samping itu, karena kesaktian Anoman juga dapat mendarat di matahari, dan melakukan perjalanan dari Alengka ke Maliawan kurang dari setengah hari.Padahal jika ditempuh manusia biasa, bisa berbulan-bulan lamanya."

"Apakah artinya itu? Anoman yang berbulu putih itu adalah seorang panglima, dan duta, itu sebetulnya melambangkan (duta putih) utusan suci dari Sri Rama. Oleh karenanya, Anoman lalu diberi nama Ramadayapati (artinya; bahwa Anoman itu adalah puncak daya kekuatan batin dari Sri Rama). Sedangkan Rama adalah Wisnu, dan Wisnu adalah kebenaran Sejati. Kebenaran Sejati adalah Yang Maha Kuasa dan Maha Suci."

"Utusan Yang Maha Suci adalah Insan Kamil, yaitu manusia yang telah mendapat anugerah dan wahyu Illahi. Pendek kata Anoman Duta Sri Rama adalah lambang utusan suci dari Kebenaran." Ki Dalang secara berkesinanbungan menceritakan ini, karena sebelumnya dia sudah menakar kemampuan menerima dari muridnya itu.

"Apakah semua orang bisa menjadi insan kamil, Kiai?"

"Manusia biasa tidak mungkin menjadi Insan Kamil, (paling banter) hanya dapat menjadi manusia yang waskita, atau filsuf agung. Seperti halnya Jayabaya, atau Ranggarwarsita. Orang yang sudah suci seperti putihnya Anoman itu akan menjadi awas, bukan awas matanya saja, tetapi awas pula hati nurani (batinnya)."

"Bagaimana bisa seperti itu, Kiai?" tanya sang murid, yang semakin terobsesi dengan keilmuan gurunya. Sebagaimana kekaguman sang guru, juga terhadap perhatiannya.

"Betapapun tajam mata melihatnya, kalau sudah terhalang oleh selembar daun saja tak mungkin mata dapat melihat. Namun sebaliknya penglihatan sejati (awasnya hati) itu, dapat melihat kenyataan, dan esensi dari segala eksistensi. Walapun ada tembok baja yang menghalangi, penglihatan sejati akan sanggup menembusnya dengan mudah." Ki Dalang menghentikan cerita, lalu kembali menyeruput minumannya.

"Wedhatama mengatakan bahwa : Tuladan marang was paos, mring jatining pandulu (penglihatan sejati itu) syaratnya haruslah tata-titi, ngati-ati, atetep talaten atul, sareh sanis kareng laku, kalakone saka benang hening heling lan hawas (teratur, cermat, hati-hati , tekun, rajin, tidak mudah tergoda, semua tindak-tanduk harus sabar, sareh, soleh, tenang, jernih, syahdhu, sadar ingat dan waspada).

" Bagaimanakah sederhananya, Kiai?"

"Pendek kata, manusia dapat menjadi awas kalau sudah mendapat Ma'rifat. Sedangkan untuk menuju ma’rifat, manusia harus melalui tataran-tataran yang disebut zahid (pertapa) yaitu meninggalkan hidup duniawi atau kematerian  (tobat, warq, farq, sabar, tawakal, dan ridho)."

"Hanya dengan syarat seperti, itukah?"

"Tetapi walaupun persyaratan tersebut sudah dipenuhi, tetapi masih ada satu syarat lagi. Yaitu: atas kehendak Tuhan, artinya manusia tidak dapat memaksa Tuhan untuk menganugerahkan Wahyu-Nya. Semuanya itu hanya atas kehendak dan bila Tuhan berkenan."

"Saya sungguh sangat memahaminya, Kiai.

"Nah, sekarang bagaimanakah halnya dengan aji Pancasona milik Rahwana?"

"Saya sudah pernah mendengar tentang ajian itu, Ki Dalang. Rahwana mendapatkannya dari, Resi Subali. Tetapi hanya itu yang saya tahu, sesungguhnya bagaimanakah apakah yang terselubung, di balik ceritanya Guru?" tanya sang murid, disambut dengan senyuman sesepuh itu.

"Rahwana adalah lambang angkara murka. Kita tahu, jika hari ini nafsu angkara berhasil kita bunuh, pasti besok akan hidup lagi. Besok berhasil kita bunuh lagi, pasti lusa akan hidup kembali. Begitulah, seterusnya akan seperti itu kejadiannya di dunia ini. Setiap manusia, mempunya Rahwana (angkara murka) lengkap dengan Pancasona-nya. Nafsu angkara yang dilambangkan Rahwana (Dasamuka) akan hilang, kalau di situ berada bersemayam Anoman (kesucian yang putih)."

Sang Guru setengah memajukan wajahnya, kemudian berbisik, "Karenanya tidak mengherankan, bahwa dalam kisah pewayangan, jika ada Rahwana pasti akan terdapat juga Anoman. Kalau Rahwana datang menggoda, maka disitu Sang Rama (Wisnu) akan memanggil Anoman untuk mengusir Rahwana si angkara murka," Ki Dalang menepuk pundak muridnya, "sekarang, artikanlah apa maksud dari semua uraianku diatas."

Dengan sikap santunnya, serta didahului permohonan maaf jika nangi salah menyimpulkan, maka dalang muda itu mulai berbicara.

"Dari uruain tersebut dapat kita ketahui, bahwa kecepatan Anoman terbang ke Alengka itu melambangkan kecepatan pikiran manusia. Tak ada kecepatan di dunia ini, yang lebih cepat dari kecepatan pikiran manusia. Sedang kekuatan Aji Mundri miliknya, adalah melambangkan pemusatan daya kekuatan manusia yang telah menjadi satu."

"Lanjutkan, Ngger!" kata sang Guru.

"Inilah yang dinamakan Triwikrama, yaitu tiga kekuatan (cipta, rasa, dan karsa) yang bersatu padu secara serempak makarti (bekerja/bertindak) bersama-sama. Hendaknya diketahui, bahwa manusia hidup itu hanya mempergunakan sebagian kecil daripada seluruh energinya. Kalau manusia dapat memusatkan seluruh energi dan potensinya, pasti ia memiliki semacam aji Mundri."

"Bagus, Ngger. Tidak sia-sia aku menceritakan ini semua, padamu. Demikianlah, halus dan lembutnya simbolisme dalam cerita wayang. Semoga, berlaku juga dalam kehidupanmu kelak."

-Tamat-

 

Tidak ada komentar untuk "Cantrik Muda dan Cerita Pewayangan yang Sarat Simbol Kehidupan"